Halaman


Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Januari 2012

Syekh Siti Jenar


Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Sitibrit, Lemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap Sufi dan juga salah satu penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat terdapat banyak varian cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar.

Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Akan tetapi sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah intelektual yang sudah mendapatkan esensi Islam itu sendiri. Ajaran – ajarannya tertuang dalam pupuh, yaitu karya sastra yang dibuatnya. Meskipun demikian, ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti.

Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang dinilai bertentangan dengan ajaran Walisongo. Pertentangan praktek sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo .

Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, yaitu apa yang disebut umum sebagai kematian justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi.

Konsekuensinya, ia tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian (hukum negara dan lainnnya), tidak termasuk didalamnya hukum syariat peribadatan sebagaimana ketentuan syariah. Dan menurut ulama pada masa itu yang memahami inti ajaran Siti Jenar bahwa manusia di dunia ini tidak harus memenuhi rukun Islam yang lima, yaitu: syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Baginya, syariah itu baru berlaku sesudah manusia menjalani kehidupan paska kematian. Syekh Siti Jenar juga berpendapat bahwa Allah itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. Pemahaman inilah yang dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu. Mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan Islam sekitar abad ke-9 Masehi) tentang Hulul yang berkaitan dengan kesamaan sifat manusia dan Tuhan. Dimana Pemahaman ketauhidan harus dilewati melalui 4 tahapan ;
  1. Syariat (dengan menjalankan hukum-hukum agama spt sholat, puasa, zakat, dll);
  2. Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan spt wirid, dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu;
  3. Hakekat, dimana hakekat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan; dan
  4. Ma’rifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya. Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut maka tahapan dibawahnya ditiadakan. 

Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar. Ilmu yang baru bisa dipahami setelah melewati ratusan tahun pasca wafatnya sang Syekh. Para ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar kepada masyarakat awam dimana pada masa itu ajaran Islam yang harus disampaikan adalah pada tingkatan ‘syariat’. Sedangkan ajaran Siti Jenar sudah memasuki tahap ‘hakekat’ dan bahkan ‘ma’rifat’kepada Allah (kecintaan dan pengetahuan yang mendalam kepada ALLAH). Oleh karenanya, ajaran yang disampaikan oleh Siti Jenar hanya dapat dibendung dengan kata ‘SESAT’.

Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa. Hanya saja masing – masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda – beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing – masing pemeluk tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.

Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas.

Manunggaling Kawula Gusti
Dalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah menjadi bersatu dengan Tuhannya.

Dan dalam ajarannya, ‘Manunggaling Kawula Gusti’ adalah bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai dengan ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang penciptaan manusia (“Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)”)>. Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi.

Perbedaan penafsiran ayat Al Qur’an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham ‘Manunggaling Kawula Gusti’.

Pengertian Zadhab
Dalam kondisi manusia modern seperti saat ini sering temui manusia yang mengalami hal ini terutama dalam agama Islam yang sering disebut zadhab atau kegilaan berlebihan terhadap Illa yang maha Agung atau Allah.
Mereka belajar tentang bagaimana Allah bekerja, sehingga ketika keinginannya sudah lebur terhadap kehendak Allah, maka yang ada dalam pikirannya hanya Allah, Allah, Allah dan Allah…. disekelilingnya tidak tampak manusia lain tapi hanya Allah yang berkehendak, Setiap Kejadian adalah maksud Allah terhadap Hamba ini…. dan inilah yang dibahayakan karena apabila tidak ada GURU yang Mursyid yang berpedoman pada AlQuran dan Hadits maka hamba ini akan keluar dari semua aturan yang telah ditetapkan Allah untuk manusia.Karena hamba ini akan gampang terpengaruh syaitan, semakin tinggi tingkat keimanannya maka semakin tinggi juga Syaitan menjerumuskannya. Seperti contohnya Lia Eden, dll. Mereka adalah hamba yang ingin dekat dengan Allah tanpa pembimbing yang telah melewati masa ini, karena apabila telah melewati masa ini maka hamba tersebut harus turun agar bisa mengajarkan yang HAK kepada manusia lain seperti juga Rasullah pun telah melewati masa ini dan apabila manusia tidak mau turun tingkatan maka hamba ini akan menjadi seperti nabi Isa AS. Maka Nabi ISA diangkat Allah beserta jasadnya. Seperti juga Syekh Siti Jenar yang kematiannya menjadi kontroversi. Dalam masyarakat jawa kematian ini disebut “MUKSO” ruh beserta jasadnya diangkat Allah.

Hamamayu Hayuning Bawana
Prinsip ini berarti memakmurkan bumi. Ini mirip dengan pesan utama Islam, yaitu rahmatan lil alamin. Seorang dianggap muslim, salah satunya apabila dia bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya dan bukannya menciptakan kerusakan di bumi.

Kontroversi
Kontroversi yang lebih hebat terjadi di sekitar kematian Syekh Siti Jenar. Ajarannya yang amat kontroversial itu telah membuat gelisah para pejabat kerajaan Demak Bintoro. Di sisi kekuasaan, Kerajaan Demak khawatir ajaran ini akan berujung pada pemberontakan mengingat salah satu murid Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging atau Ki Kebokenanga adalah keturunan elite Majapahit (sama seperti Raden Patah) dan mengakibatkan konflik di antara keduanya.

Dari sisi agama Islam, Walisongo yang menopang kekuasaan Demak Bintoro, khawatir ajaran ini akan terus berkembang sehingga menyebarkan kesesatan di kalangan umat. Kegelisahan ini membuat mereka merencanakan satu tindakan bagi Syekh Siti Jenar yaitu harus segera menghadap Demak Bintoro. Pengiriman utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat ternyata tak cukup untuk dapat membuat Siti Jenar memenuhi panggilan Sri Narendra Raja Demak Bintoro untuk menghadap ke Kerajaan Demak. Hingga konon akhirnya para Walisongo sendiri yang akhirnya datang ke Desa Krendhasawa di mana perguruan Siti Jenar berada.

Para Wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng.

Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima wali tersebut dengan Siti Jenar. Menurut Siti Jenar, kelima wali tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuh Siti Jenar. Karena beliau dapat meminum tirtamarta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menjelang kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki.

Tak lama, terbujurlah jenazah Siti Jenar di hadapan kelima wali. Ketika hal ini diketahui oleh murid-muridnya, serentak keempat muridnya yang benar-benar pandai yaitu Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo dan Ki Pringgoboyo pun mengakhiri “kematian”-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali.

Kisah pada saat pasca kematian
Terdapat kisah yang menyebutkan bahwa ketika jenazah Siti Jenar disemayamkan di Masjid Demak, menjelang salat Isya, semerbak beribu bunga dan cahaya kilau kemilau memancar dari jenazah Siti Jenar.
Jenazah Siti Jenar sendiri dikuburkan di bawah Masjid Demak oleh para wali. Pendapat lain mengatakan, ia dimakamkan di Masjid Mantingan, Jepara, dengan nama lain.

Sumber: Wikipedia. 


Komaruddin Hidayat,
Dosen IAIN Syarif Hidayatullah dan Fakultas Sastra UI
Sementara itu, sebagai fenomena, Siti Jenar bisa dikatakan sebagai sosok yang mengancam kekuasaan para wali saat itu. Sebab, sebagai pemimpin, para wali itu harus memiliki kelebihan. Nah, "kelebihan" yang dimiliki oleh Siti Jenar itu membuat para wali tersaingi kekuasaannya. Hal itu pada akhirnya berpengaruh pada umat pengikut para wali dan Siti Jenar.
Maka, para wali yang pada saat itu berkoalisi dengan penguasa juga berusaha untuk membangun mitos tentang kelebihan-kelebihan mereka. Itu sah-sah saja. Dalam konteks zaman dulu, seorang pemimpin memang harus memiliki kesaktian lebih dibandingkan dengan masyarakat. Fenomena seperti ini selalu ada pada setiap zaman, yaitu bahwa setiap pemimpin harus mempertahankan kewibawaan kepemimpinannya.
Selain itu, Siti Jenar bisa digolongkan sebagai orang yang sangat liberal. Sebab, sebagai orang yang belajar tasawuf, ia akan sulit untuk membahasakan ke orang lain, apalagi yang menyangkut pengalaman metafisik.

Nurcholish Madjid,
Rektor Universitas Paramadina Mulya
Apa yang telah dialami oleh Siti Jenar—dalam mencari Tuhan—sebenarnya juga bisa dialami oleh orang lain yang mendalami tasawuf. Sebab, ajaran seperti Siti Jenar itu memang termasuk salah satu ajaran tasawuf, sehingga kejadian seperti yang dialami Siti Jenar bisa menimpa orang lain juga.
 
Azyumardi Azra,
Rektor IAIN Syarih Hidayatullah
Secara umum, fenomena Siti Jenar menunjukkan pergumulan antara dua dimensi Islam. Dimensi pertama adalah "dimensi sufistik", yang diwakili oleh Siti Jenar, dan dimensi kedua adalah "dimensi syariat", yang diwakili oleh Wali Songo. Dan di Jawa, sosok Siti Jenar tidak sendiri. Ada Sunan Panggung pada masa Kerajaan Demak, Syekh Among Raga pada masa Mataram, dan Kiai Mutamakin pada abad ke-18. Nah, tokoh-tokoh kontroversial tersebut selalu harus berhadapan dengan para penguasa pada saat itu karena mereka dianggap menggoyahkan tatanan masyarakat. Karena itu, nasib Siti Jenar tidak berbeda dengan nasib yang lainnya, seperti Sunan Panggung, yaitu dihukum mati.

K.H. Mustofa Bisri,
Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Tolibien, Rembang, Jawa Tengah
Ajaran Syekh Siti Jenar sampai sekarang masih kontroversial dan menjadi bahan perdebatan. Meski di kalangan penganut tasawuf ajarannya itu bukanlah hal yang dianggap sesat, buat orang awam, ia dinilai bisa berbahaya dari segi akidah dan tauhid. Itu sebabnya para ulama sangat khawatir jika itu diajarkan secara terbuka kepada umat yang awam.
Menurut saya, ajaran Siti Jenar atau yang dikenal juga dengan nama Syekh Lemah Abang ini sama dengan ajaran tasawufnya Al Hallaj (858-922) dan Ibnu Arabi, filsuf terkenal pada 1165-1240. Sebab, dalam ajaran Siti Jenar terdapat sebutan manunggaling kawula gusti, sedangkan dalam tasawuf Al Hallaj dan Hulul ada istilah wahdlatul wujud, yakni keyakinan bisa bergabungnya manusia dengan Tuhan. Seperti halnya ajaran itu, apa yang disampaikan Syekh Siti Jenar pun tidak memiliki unsur mistis seperti sering diceritakan banyak orang.

»»  Baca Selengkapnya...

Senin, 26 Desember 2011

Khalil Gibran E-Book


Khalil Gibran (juga dieja Khalil Gibran; lahir Gibran Khalil Gibran, bahasa Arab: جبران خليل جبران, lahir di Lebanon, 6 Januari 1883 – meninggal di New York City, Amerika Serikat, 10 April 1931 pada umur 48 tahun) adalah seorang seniman, penyair, dan penulis Lebanon Amerika. Ia lahir di Lebanon (saat itu masuk Provinsi Suriah di Khilafah Turki Utsmani) dan menghabiskan sebagian besar masa produktifnya di Amerika Serikat. id.wikipedia.org.

Bagi yang ingin menambah koleksi buku-bukunya silahkan anda download link ebook dibawah ini GRATIS. Tapi karena format ebook ini dalam bentuk *.djvu, maka anda memerlukan software Reader WinDjView yang dapat anda download disini. Setelah anda download, ekstrak kemudian buka ebook melalui software Reader tersebut.


  







»»  Baca Selengkapnya...

Sabtu, 24 Desember 2011

Sejarah Koesno Sosro Soekarno yang diputarbalikan

BERUNTUNGLAH, sejak 2007 sudah dilakukan revisi atas terjemahan buku: Soekarno, An Autobiography as told to Cindy Adams. Buku ini pernah diterjemahkan oleh militer pada 1966, dengan kata pengantar oleh Jenderal Soeharto, panglima Komando Penertiban dan Pemulihan Keamanan ­(Pangkopkamtib), sebuah jabatan yang sangat berpengaruh saat itu. Tentu mengherankan, kok betapa baiknya Orde Baru yang mau menerjemahkan buku itu di saat semua ajaran dan apa saja yang berbau Soekarno disingkirkan.
Ternyata, ketika edisi revisi diterbitkan terbukti bahwa terjemahan pertama buku itu merupakan bagian dari strategi penguatan kekuasaan Orde Baru. Banyak sekali pelintiran dan pembelokan atas fakta Bung Karno yang jelas dilakukan dengan sengaja. Misalnya saja, bagian yang mengisahkan detik-detik Proklamasi. Ketika Bung Karno sedang menunggu Bung Hatta, tertulis: aku sebenarnya tidak membutuhkan Hatta. ­Padahal, dalam buku sejarah yang benar (sebelum dipelintir dan dibelokkan) tertulis: aku menunggu Hatta, Indonesia membutuhkan Hatta. Karena itu, kita dapat memahami jika pengikut Bung karno, apalagi kaum moralis dan intelektual, menjadi benci pada Soekarno. Mereka beranggapan Soekarno begitu angkuh. Seakan-akan menunjukkan dirinya sebagai pejuang tunggal dalam peristiwa proklamasi.
Pelintiran itu juga mengakibatkan dua generasi bangsa ini salah dalam mengenali­kota kelahiran Bung Karno. Pada terjemahan versi militer disebutkan Bung Karno lahir di Blitar, sedangkan pada edisi revisi yang diterbitkan oleh penerbit Media Pressindo, 430 halaman, pada halaman 383 terdapat kutipan ucapan Bung Karno: Aku lahir di Surabaya. Bapak memang selalu berpindah tugas, tetapi ketika pensiun memilih tingal di Blitar. Kota kelahiran Bung Karno yang ditulis dalam pelintiran terjemahan militer atas buku Cindy Adams itu kemudian menjadi rujukan pelajaran sejarah untuk para pelajar. Masyarakat, terutama anak-anak sekolah, tidak memiliki referensi karena ketika itu semua buku sejarah tidak boleh dipakai, harus dimusnahkan.
Terutama setelah keluar TAP MPRS yang melarang ajaran-ajaran Bung Karno (yang sampai sekarang belum dicabut). TAP MPRS itu sangat menakutkan masyarakat. Banyak yang menusnahkan sendiri buku-buku mereka. *** Sebagai ilustrasi, di Surabaya, pada 1972, seorang dosen dipecat dari kampus karena didapati menggunakan buku sejarah lama sebelum dipelintir untuk mengajar. Padahal, sang dosen berangapan, mahasiswa adalah sosok intelektual yang kritis, yang mestinya bisa menerima pelajaran sejarah dari semua versi sebagai bahan referensi. Nasib yang sama juga pernah dialami oleh Arief Budiman, dosen Universitas Satya Wacana Salatiga yang pernah mencoba mengajarkan Marxiologi.
­Padahal, dia cuma tidak bisa menghindar dari bahasan politik internasional yang harus mengetahui garis besar ajaran Marx. Ibarat mengajarkan Tuhan, harus juga dijelaskan apa itu setan. Alangkah menyedihkan kalau dunia luar, para sejarawan, dan penulis tetap menuliskan Surabaya sebagai kota kelahiran Bung Karno, sementara kita sendiri bingung dan ragu-ragu. Lihatlah buku terbaru biografi Soekarno terbaru, Soekarno Politicheswkaya Biografiya (SOEKARNO, Biografi Politik), Moskwa Mysl, 1980. Prof Kapitsa M.S. & Dr Maletin N.P., (1980), terjemahan dari bahasa Rusia oleh B. Soegiharto PhD, penerbit Ultimus, 2009. Di halaman 9 jelas tertulis: Soekarno dilahirkan di Jawa, Surabaya, pada 6 Juni 1901.
Penulis Belanda, Bob Hering (Soekarno, Mitos dan Realitas – 1986), yang banyak mempelajari arsip-arsip lama Bung Karno di Leiden, Belanda, dan Arsip Nasional di Jakarta dengan jelas menulis Soekarno lahir pada Kamis Pon (Wuku Wayang), 6 Juni 1901 di Surabaya. Buku yang terlama tentang biografi Bung Karno adalah yang ditulis oleh Im Yang Tjoe pada tahun 1933. Buku yang berjudul asli Soekarno Sebagi Manoesia itu pada halaman 21 tertulis: ­Marika hidoep dalem kaberoentoengan sahingga dapet saorang anak prampoean jang oleh ajahnja dikasih nama Soekarmini. Dari sitoe kamoedian marika pindah tinggal di Soerabaia, karena R. Soekemi moesti lakoekan pekerdja’an di sana.
Soeami-istri sama saorang anak moesti hidoep di itoe kota besar dengan gadjih tjoema f 27 50 saboelan, oh penghidoepan jang melarat, dan ketambahan poela itoe istri jang masih moeda kombali sekarang sedeng mengandoeng. Tapi siapa njana, dalem itoe hari-hari jang kakoerangan, mendadak pada tanggal 6 Juni 1901 waktoe fadjar menjingsing, telah terlahir saorang anak lelaki, jang tiada terdoega sama sekali kemoedian bakal mendjadi Bapanja kaoem Marhaen di Indonesia.
Siapa ia? Boekan laen dari Koesno Sosro Soekarno…. ­­ Memang, dalam semua penulisan biografi Soekarno sebelum terbitnya terjemahan militer yang dipelintir itu (1966), ­semuanya menulis Soekarno lahir di Surabaya. Selain buku Soekarno Sebagi Manoesia (Im Yang Tjoe, penerbit Ravena, Solo, 1933), ada Kamus Politik (A.M. Adinda/Usman Burhan, penerbit Ksatrya, Surabaya, 1950). Tiga terbitan ensiklopedi, yaitu Ensiklopedia Indonesia 1955, NV penerbit W. Van Hoeve, Bandung. ‘S – Gravenhage: (djilid III N-Z) halaman 1.265; Ensiklopedi Indonesia (edisi khusus, jilid 6 SHI – VAJ) terbitan PT Ichtiar Baru, Van Hoeve, Jakarta 1986; dan Ensiklopedi Nasional Indonesia (jilid 15 SF-SY) penerbit Delta Pamungkas, Jakarta, 1997, halaman 311, menulis Soekarno kelahiran Surabaya, 1 Juni 1901. Buku-buku Soebagijo I.N. (Pengukir Jiwa Soekarno), Solichin Salam (Bung Karno Putra sang Fajar), Nurinwa Ki S. Hendrowinoto Dkk (Ayah Bunda Bung Karno, penerbit Republika 2002), dan Nasution M.Y. (Riwayat Ringkas, Penghidupan dan Perjuangan Ir Soekarno) bahkan mencantumkan alamat tempat Bung Karno dilahirkan, yaitu di Kampung Pandean IV/40, Surabaya. Yang terjadi biarlah terjadi, yang lalu biarlah berlalu.
Ketika Bung Karno meninggal pada 1970, pendiri republik itu dimakamkan di Blitar. Kota kecil yang damai itu penuh oleh massa yang ingin mengantar kepergian sang Proklamator. Jalanan penuh mobil dan macet hingga 40 kilometer dari tempat pemakaman. Bayangkan seandainya Soekarno dimakamkan di Surabaya. Bukankah 2000 tahun lalu revolusi di Roma juga terjadi pada saat pemakaman Julius Caesar? Itulah kenapa Orde Baru melakukan pelintiran dan peminggiran atas Soekarno.

Indopos.co.id
»»  Baca Selengkapnya...